Posts tagged ‘muhajirin’

April 13, 2010

Kisah Pengangkatan Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq Rodhiyallohu’anhu #continued2

KISAH TSAQIFAH BANI SAIDAH DAN KISAH UMAR RADHIYALLOHU’ANHU

Pidato Umar bin al Khotob radhiyallohu’anhu. Ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan
Umar berdiri. Setelah memuji Alloh ia mulai berbicara, ‘Amma ba’du, wahai saudara-saudara sekalian, aku akan mengatakan suatu perkataan yang telah ditentukan oleh Alloh bahwa aku akan mengatakannya. Dan aku tidak tahu, namun merasa ajalku telah telah dekat, maka barang siapa yg memahami perkataanku dengan baik sampaikanlah kepada orang-orang yanga dapat dijumpainya, dan barang siapa yang tidak memahami perkataanku maka aku tidak halakan baginya berdusta atas namaku.
Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad sholallohu’alaihi wassalam dengan kebenaran, dan menurunkan wahyu kepadanya. Di antara ayat yang diturunkan adalah ayat mengenai rajam, dan kita pernah membacanya dan memahaminya bahkan Rasulullah sholallohu’alaihi wassalam telah melaksanakan hukum rajam dan kita telah menerapkan hukum ini sepeninggal beliau.

Aku takut kelak akan ada yang berani mengatakan. “Kami tidak pernah mendapati masalah rajam tertulis dalam Kitabullah,” hingga ahirnya dia tersesat dengan meninggalkan suatu kewajiban yang Allah turunkan. maka sesungguhnya hukum rajam itu benar-benar ada dalam kita Allah terhadap orang yang berzina jika telah menikah baik laki-laki baupun wanita apabila telah jelas bukti-buktinya, atau tanda berupa al-hablu (Red: yaitu hamil dari zina, dan dalam riwayatMa’mar berbunyi alhamlu-fatul bari 12/148) maupun berdasarkan pengakuan sendiri.
Ingatlah kita pernah membaca,
“Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian, sesungguhnya kalian dianggap kufur jika membenci bapak-bapak kalian”.
Ingatlah sesungguhnya Rasulullah sholallohu’alaihi wassalampernah bersabda.
“Janganlah kalian menyanjung aku sebagaimana Isa bin Maryam disanjung, sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, karena itu katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Samapai kepadaku berita bahwa diantara kalian ada yang mengatakan, “Jika Umar telah wafat maka aku akan membaiat si fulan, maka janganlah kalian terkecoh dan mengatakan bahwa baiat Abu Bakar hanyalah kebetulan saja dan kini telah selesai. Ingatlah sesungguhnya pengangkatan dirinya benar demikian adanya, namun Allah telah menjaga keburukan terjadi, tidak ada seorangpun di sini diantara kalian yang menyamai kedudukan Abu Bakar Rahiyallohu’anhu yang dipatuhi oleh seluruh manusia, dan sesungguhnya beliau adalah orang yang terbaik diantara kita.
Ketika Rasulullah sholallohu’alaihi wassalam wafat, maka Ali, az-Zubair dan orang-orang yang beserta mereka tidak ikut sebab kala itu mereka di rumah Fathimah. Kaum Anshar tidak seluruhnya berkumpul di Tsaqifah Bani Sa’idah bersama kami. Lalu datanglah kaum Muhajirin kepada Abu Bakar, kukatakan padanya, “Wahai Abu Bakar mari kita berangkat menuju saudara-saudara kita dari golongan Anshar!’ Maka kami seluruhnya berangkat menuju mereka dan berpapasan dengan dua orang shalih dari kalangan Anshar menceritakan kepada kami apa yang sedang dibicarakan oleh kaum Anshar, mereka berkata, “Hendak kemanakah kalian wahai kaum Muhajirin?’ Aku menjawab, ‘Kami mau menemui saudara-saudara kami kaum Anshar!’ Maka keduanya berkata, ‘Janganlah kalian mendekati mereka tetapi selesaikanlah urusan
kalian sendiri!’ Maka aku menjawab, ‘Demi Allah kami akan menemui mereka.’ Maka kami berangkat dan menemui mereka di Tsaqifah Bani Sa’idah, ternyata mereka sedang berkumpul, dan diantara mereka ada seorang yang sedang berselimut. Maka kutanyakan, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab,’Saad bin Ubadah.’ Maka kukatakan, ‘Ada apa dengannya?’ Mereka menjawab, ‘Dia sedang sakit.’
Tatkala kami duduk maka berdirilah salah seorang pembicara dari mereka, setelah memuji Allah dia berkata, ‘Amma ba’du, kami adalah kaum Anshar para penolong Allah dan pionir-pionir Islam, dan kalian wahai kaum Muhajirim adalah dari kalangan Nabi kami, dan sesungguhnya telah muncul tanda-tanda dari kalian bahwa kalian akan turut mendominasi kami di sini, dan di tempat tinggal kami ini dan akan mengambil alih kekuasaan dari kami.’

Ketika ia diam maka aku ingin berbicara, dan aku sebelumnya telah mempersiapkan redaksi yang kuanggap sangat baik dan menakjubkan aku, aku ingin mengatakannya dihadapan Abu Bakar, dan aku lebih terkesan sedikit lebih keras darinya, maka aku khawatir dia akan mengalah. Namun dia lebih lembut dariku dan lebih disegani. Abu Bakar mencegahku berbicara berkata, ‘Tahanlah sebentar, maka aku enggan membuatnya marah, sebab ia lebih berilmu dariku dan lebih disegani, dan demi Allah tidak satupun kalimat yang kupersiapkan dan aku anggap baik kecuali beliau sampaikan dengan ekspresinya yang begitu baik dan lancar bahkan lebih baik dariku, hingga ahirnya ia diam.
Kemudian ia berkata, ‘Amma ba’du, apapun mengenai kebaikan yang telah kalian sebutkan, maka benar adanya dan kalianlah orangnya. Namun orang-orang Arab hanya mengenal kabilah ini yakni Quraisy. Secara nasab merekalah yang paling mulia diantara bangsa-bangsa Arab. Demikian tempat tinggal mereka yang paling mulia dari pada seluruhnya. Karena itu aku rela jika urusan kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang dari dua lelaki ini, terserah kalian memilih diantara keduanya, kemudian dia menarik tangaku dan tangan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, maka aku tidak sedikitpun merasa benci dengan semua perkataannya kecuali satu hal ini, dan demi Allah jika aku maju dan dipenggal kepalaku namun tidak menganngung beban ini lebih kusukai dari pada aku memimmpin orang-orang yang terdapat didalamnya Abu Bakar, kecuali jika diriku kelak berubah sebelum mati.
Kemudian seorang Anshar berkata. ‘ana jauzailuha al-muhakkak wa uzaiquha al-mujarrab, dari kami seorang pemimpin dan dari kalian pilihlah seorang pemimpin wahai orang-orang Quraisy – (perawi Ishaq bin Isa bertanya kepada Malik, ‘Apa ungkapan ‘juzailuha al-muhakkak wa uzaiquha al-mujarrab’ dia menjawab, ‘Maksudnya akulah pemimpin yang tertinggi.’) Kemudian Umar melanjutkan, maka mulailah orang-orang mengangkat suara dan timbul keributan, hingga kami menghawatirkan terjadinya perselisihan, maka aku katakan, ‘Berikan tanganmu wahai Abu Bakar, maka ia berika tangannya dan aku segera membaiatnya, maka seluruh Muhajirin turut membaiat, yang kemudian diikuti oleh kaum Anshar, dan kami tinggalkan Saad bin Ubadah, hingga ada yang berkomentar dari mereka tentangnya, ‘Kalian telah membinasakan Sa’ad,’ maka aku sambut,’ Allah-lah yang telah membinasakan Saad.
Kemudian Umar melanjutkan pidatonya dan berkata, ‘Demi allah, kami tidak pernah menemui perkara yang paling besar dari perkara bai’at terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tinggalkan mereka tanpa ada yang dibai’at, maka mereka kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at yang mereka buat yang pasti akan menimbulkan kehancuran, maka barang siapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah terlebih dahulu, bai’atnya dianggap tidak sah. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh.”

Be Continued… Insya Allah.