Archive for ‘Buku’

April 27, 2011

NII KW9 : Begitu Susahnya diberantas?

Melihat perkembangan N11 KW9, telah diinvestigasi oleh MUI, hasilnya mencengangkan. Diduga NII KW9 berujung ke Al Zaytun. MUI telah banyak menghasilkan fatwa-fatwa tentang aliran sesat dan merekomendasikan kepada pemerintah untuk mengambil tindakan. Tapi hasil rekomendasi tetap berlalu tanpa ada tindak lanjut. Sebagai lembaga kumpulan para ulama ahli di bidangnya yg notabene adalah bentukan pemerintah sendiri – fatwa MUI nyaris tidak digubris.
Ahirnya banyak kasus kekerasan yang timbul karena masyarakat tidak puas dengan tindakan pemerintah yg terasa sangat lamban.
Alih-alih adanya kasus pencucuian otak – kebanyakan hanya berujung pada delik penipuan tanpa ada investigasi secara menyeluruh terhadap jaringan.
Kita berharap semoga pemerintah bisa secara jujur dan adil menyelesaikan kasus ini mengingat sudah banyak jatuh korban, ataukah memang pembiaran sengaja dilakukan untuk menjatuhkan Islam?

http://www.detiknews.com/read/2011/04/27/162511/1626877/10/al-chaidar-duga-oknum-intelijen-lindungi-al-zaytun-panji-gumilang

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah meneliti bahwa pondok pesantren Al Zaytun berhubungan dengan Negara Islam Indonesia (NII) dengan tokohnya Panji Gumilang. Mengapa Al Zaytun dan Panji Gumilang selama ini tak tersentuh? Diduga ada oknum intelijen yang membekingi.

Al Chaidar, mantan anggota NII dan penulis buku ‘Sepak Terjang KW9 Abu Toto Syekh A.S. Panji Gumilang Menyelewengkan NKA-NII Pasca S.M. Kartosoewirjo’ menduga ada oknum intelijen yang melindungi.

“Ada penelitian Depag, MUI, terhadap Al Zaytun, Panji Gumilang ini orang dilindungi pemerintah kelihatannya, oknum-oknum intelijennya,” jelas Al Chaidar ketika ditanya tentang sosok Panji Gumilang yang misterius ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (27/4/2011).

Al Chaidar pernah beberapa kali bertemu dengan Panji Gumilang. “Pernah (beberapa kali), orangnya besar, gendut, mewah, banyak cincin-cincin,” jelas Al Chaidar.

Dia yang pernah masuk ke lingkaran dalam Ponpes Al Zaytun ini membenarkan ada pendoktrinan tentang NII, seperti mengkafirkan orang di luar Al Zaytun, boleh menipu dan mencuri. Motifnya, tidak pernah benar-benar berniat untuk mendirikan negara Islam.

“Ya mengumpulkan harta itu, tidak pernah berniat untuk mendirikan negara Islam,” jelasnya.

Dari harta yang dikumpulkan itu menurut Al Chaidar, hanya 10 persen untuk Al Zaytun. “90 persen untukl oknum-oknum intelijen,” jelas Al Chaidar.

Sementara menurut http://nii-alzaytun.blogspot.com disebutkan:

Beberapa bulan kemudian, sekitar akhir 1999, Kepala Badan Intelijen (BAKIN) Letjen Purn ZA Maulani, pernah diminta melakukan negosiasi atas nama AS Panji Gumilang (alias Abu Toto) untuk berhadapan dengan Al Chaidar, misinya meminta Al Chaidar tidak usah menerbitkan buku tentang masa lalu Abu Toto yang berkaitan dengan Al-Zaytun.

Ketika dikonfirmasi hal ini, Al Chaidar membenarkannya. “Benar itu, teman-teman saya bilang nggak usah pakai deal-deal, kalau nggak ditulis nanti korban kemanusiaan yang semakin banyak, ditulis saja masih banyak korban, apalagi tidak,” ujarnya.

Petinggi TNI era Orba, Prabowo Subiyanto, menyangkal NII KW 9 yang sering dikaitkan dengan Al Zaytun adalah bentukan dan binaan intelijen. “Enggaklah, kita kan tahu sejarahnya,” kata Prabowo hari ini.

Sementara itu, Koordinator Al Zaytun Kalimantan Selatan, A.S.E Iskandar menyatakan, pengaitan lembaganya dengan NII dan isu Panji Gumilang adalah Presiden NII telah sering kali muncul. Namun pihak Al Zaytun lebih memilih tidak berkoar-koar membantah wacana dan isu tersebut. Sebab dia khawatir jika selalu ada bantahan akan selalu ramai.

Menurutnya, anak-anak suka belajar ke Pesantren Al Zaytun karena ponpes ini mempersiapkan santrinya menjadi pemimpin. Banyak pejabat yang datang, sehingga santri pun bisa melihat dan berdialog langsung dengan pejabat.

(nwk/nrl)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Baca Juga :

Ketua MUI: NII Seolah Di-backing, Pemerintah Harus Segera Bertindak
Gus Choi: Orang Radikal Biasanya Miskin dan Dangkal Agamanya
Polri: Pepi Fernando Pernah Masuk NII
Ketua MUI: Mungkin Lingkaran Dalam Al Zaytun Terkait NII KW 9

April 13, 2010

Kisah Pengangkatan Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq Rodhiyallohu’anhu #continued2

KISAH TSAQIFAH BANI SAIDAH DAN KISAH UMAR RADHIYALLOHU’ANHU

Pidato Umar bin al Khotob radhiyallohu’anhu. Ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan
Umar berdiri. Setelah memuji Alloh ia mulai berbicara, ‘Amma ba’du, wahai saudara-saudara sekalian, aku akan mengatakan suatu perkataan yang telah ditentukan oleh Alloh bahwa aku akan mengatakannya. Dan aku tidak tahu, namun merasa ajalku telah telah dekat, maka barang siapa yg memahami perkataanku dengan baik sampaikanlah kepada orang-orang yanga dapat dijumpainya, dan barang siapa yang tidak memahami perkataanku maka aku tidak halakan baginya berdusta atas namaku.
Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad sholallohu’alaihi wassalam dengan kebenaran, dan menurunkan wahyu kepadanya. Di antara ayat yang diturunkan adalah ayat mengenai rajam, dan kita pernah membacanya dan memahaminya bahkan Rasulullah sholallohu’alaihi wassalam telah melaksanakan hukum rajam dan kita telah menerapkan hukum ini sepeninggal beliau.

Aku takut kelak akan ada yang berani mengatakan. “Kami tidak pernah mendapati masalah rajam tertulis dalam Kitabullah,” hingga ahirnya dia tersesat dengan meninggalkan suatu kewajiban yang Allah turunkan. maka sesungguhnya hukum rajam itu benar-benar ada dalam kita Allah terhadap orang yang berzina jika telah menikah baik laki-laki baupun wanita apabila telah jelas bukti-buktinya, atau tanda berupa al-hablu (Red: yaitu hamil dari zina, dan dalam riwayatMa’mar berbunyi alhamlu-fatul bari 12/148) maupun berdasarkan pengakuan sendiri.
Ingatlah kita pernah membaca,
“Janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian, sesungguhnya kalian dianggap kufur jika membenci bapak-bapak kalian”.
Ingatlah sesungguhnya Rasulullah sholallohu’alaihi wassalampernah bersabda.
“Janganlah kalian menyanjung aku sebagaimana Isa bin Maryam disanjung, sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, karena itu katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Samapai kepadaku berita bahwa diantara kalian ada yang mengatakan, “Jika Umar telah wafat maka aku akan membaiat si fulan, maka janganlah kalian terkecoh dan mengatakan bahwa baiat Abu Bakar hanyalah kebetulan saja dan kini telah selesai. Ingatlah sesungguhnya pengangkatan dirinya benar demikian adanya, namun Allah telah menjaga keburukan terjadi, tidak ada seorangpun di sini diantara kalian yang menyamai kedudukan Abu Bakar Rahiyallohu’anhu yang dipatuhi oleh seluruh manusia, dan sesungguhnya beliau adalah orang yang terbaik diantara kita.
Ketika Rasulullah sholallohu’alaihi wassalam wafat, maka Ali, az-Zubair dan orang-orang yang beserta mereka tidak ikut sebab kala itu mereka di rumah Fathimah. Kaum Anshar tidak seluruhnya berkumpul di Tsaqifah Bani Sa’idah bersama kami. Lalu datanglah kaum Muhajirin kepada Abu Bakar, kukatakan padanya, “Wahai Abu Bakar mari kita berangkat menuju saudara-saudara kita dari golongan Anshar!’ Maka kami seluruhnya berangkat menuju mereka dan berpapasan dengan dua orang shalih dari kalangan Anshar menceritakan kepada kami apa yang sedang dibicarakan oleh kaum Anshar, mereka berkata, “Hendak kemanakah kalian wahai kaum Muhajirin?’ Aku menjawab, ‘Kami mau menemui saudara-saudara kami kaum Anshar!’ Maka keduanya berkata, ‘Janganlah kalian mendekati mereka tetapi selesaikanlah urusan
kalian sendiri!’ Maka aku menjawab, ‘Demi Allah kami akan menemui mereka.’ Maka kami berangkat dan menemui mereka di Tsaqifah Bani Sa’idah, ternyata mereka sedang berkumpul, dan diantara mereka ada seorang yang sedang berselimut. Maka kutanyakan, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab,’Saad bin Ubadah.’ Maka kukatakan, ‘Ada apa dengannya?’ Mereka menjawab, ‘Dia sedang sakit.’
Tatkala kami duduk maka berdirilah salah seorang pembicara dari mereka, setelah memuji Allah dia berkata, ‘Amma ba’du, kami adalah kaum Anshar para penolong Allah dan pionir-pionir Islam, dan kalian wahai kaum Muhajirim adalah dari kalangan Nabi kami, dan sesungguhnya telah muncul tanda-tanda dari kalian bahwa kalian akan turut mendominasi kami di sini, dan di tempat tinggal kami ini dan akan mengambil alih kekuasaan dari kami.’

Ketika ia diam maka aku ingin berbicara, dan aku sebelumnya telah mempersiapkan redaksi yang kuanggap sangat baik dan menakjubkan aku, aku ingin mengatakannya dihadapan Abu Bakar, dan aku lebih terkesan sedikit lebih keras darinya, maka aku khawatir dia akan mengalah. Namun dia lebih lembut dariku dan lebih disegani. Abu Bakar mencegahku berbicara berkata, ‘Tahanlah sebentar, maka aku enggan membuatnya marah, sebab ia lebih berilmu dariku dan lebih disegani, dan demi Allah tidak satupun kalimat yang kupersiapkan dan aku anggap baik kecuali beliau sampaikan dengan ekspresinya yang begitu baik dan lancar bahkan lebih baik dariku, hingga ahirnya ia diam.
Kemudian ia berkata, ‘Amma ba’du, apapun mengenai kebaikan yang telah kalian sebutkan, maka benar adanya dan kalianlah orangnya. Namun orang-orang Arab hanya mengenal kabilah ini yakni Quraisy. Secara nasab merekalah yang paling mulia diantara bangsa-bangsa Arab. Demikian tempat tinggal mereka yang paling mulia dari pada seluruhnya. Karena itu aku rela jika urusan kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang dari dua lelaki ini, terserah kalian memilih diantara keduanya, kemudian dia menarik tangaku dan tangan Abu Ubaidah bin al-Jarrah, maka aku tidak sedikitpun merasa benci dengan semua perkataannya kecuali satu hal ini, dan demi Allah jika aku maju dan dipenggal kepalaku namun tidak menganngung beban ini lebih kusukai dari pada aku memimmpin orang-orang yang terdapat didalamnya Abu Bakar, kecuali jika diriku kelak berubah sebelum mati.
Kemudian seorang Anshar berkata. ‘ana jauzailuha al-muhakkak wa uzaiquha al-mujarrab, dari kami seorang pemimpin dan dari kalian pilihlah seorang pemimpin wahai orang-orang Quraisy – (perawi Ishaq bin Isa bertanya kepada Malik, ‘Apa ungkapan ‘juzailuha al-muhakkak wa uzaiquha al-mujarrab’ dia menjawab, ‘Maksudnya akulah pemimpin yang tertinggi.’) Kemudian Umar melanjutkan, maka mulailah orang-orang mengangkat suara dan timbul keributan, hingga kami menghawatirkan terjadinya perselisihan, maka aku katakan, ‘Berikan tanganmu wahai Abu Bakar, maka ia berika tangannya dan aku segera membaiatnya, maka seluruh Muhajirin turut membaiat, yang kemudian diikuti oleh kaum Anshar, dan kami tinggalkan Saad bin Ubadah, hingga ada yang berkomentar dari mereka tentangnya, ‘Kalian telah membinasakan Sa’ad,’ maka aku sambut,’ Allah-lah yang telah membinasakan Saad.
Kemudian Umar melanjutkan pidatonya dan berkata, ‘Demi allah, kami tidak pernah menemui perkara yang paling besar dari perkara bai’at terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tinggalkan mereka tanpa ada yang dibai’at, maka mereka kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at yang mereka buat yang pasti akan menimbulkan kehancuran, maka barang siapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah terlebih dahulu, bai’atnya dianggap tidak sah. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh.”

Be Continued… Insya Allah.

April 9, 2010

Kisah Pengangkatan Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq Rodhiyallohu’anhu

Bismillah. Telah banyak tulisan yang meriwayatkan biografi dan keutamaan Abu Bakar. Saya mencoba mengutip riwayat pengangkatan Kekhalifahan Beliau Radhiyallohu ‘anhu.
Insya Alloh akan hadir tulisan berseri tentang kejadian-kejadian penting pada masa Khilafah ar Rasyidin.

*#* PERKARA-PERKARA PENTING YANG TERJADI SETELAH RASULULLAH WAFAT DAN SEBELUM DIKEBUMIKAN

Perkara besar dan agung bagi agama Islam dan umatnya adalah proses pembaiatan Abu Bakar ash Shiddiq rodhiyallohu’anhu. Sebab ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq telah menjadi imam kaum muslimin dalam shalat shubuh, pada waktu itu Rasulullah telah bangun dari sakitnya serta sempat menjenguk kaum muslimin dengan menyingkap tirai pembatas rumahnya dengan masjid. Ketika itu Rasulullah memandang kepada kaum muslimin yang shalat bershaf-shaf di belakang Abu Bakar ash-Shiddiq, beliau merasa senang dan tersenyum hingga menyebabkan kaum muslimin hampir-hampir meninggalkan shalatnya disebabkan rasa gembira melihat Rasulullah telah pulih, dan hampir saja Abu Bakar mundur demi melihat Rasulullah Shalallohu ‘alaihissalam, namun beliau mengisyaratkan kepada mereka agar ditempat masing-masing dan melanjutkan shalat kemudian beliau menutup tirai rumahnya.
Itu adalah ahir perjumpaan mereka dengan Rasulullah sholallohu’alaihissalam. Ketika Abu Bakar pulang dari shalat maka ia masuk menghadap Rasulullah Sholallohu’alaihissalam dan berkata kepada Aisyah, “Aku rasa sakit Rasulullah telah senbuh.” Dan hari ini giliran puteri kharijah. Yaitu salah satu dari istrinya yang tinggal di Sanuh arah sebelah timur Madinah, maka dia segera menaiki kudanya dan berangkat kesana.
Pada waktu tengah hari Rasulullah Sholalllohu’alaihissalam pun wafat dan ada yang mengatakan bahwa beliau wafat sebelum matahari tergelincir. Wallauhu a’lam.
Ketika beliau wafat, para sahabat saling berselisih dalam menyikapi kejadian tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat dan ada yang mengatakan bahwa beliau belum wafat. Salim bin Ubaid|82 berangkat menyusul Abu Bakar ash-Shiddiq ke Sanuh untuk memberitakan wafatnya Rasulullah Sholallohu ‘alaihissalam, seketika Abu Bakar datang dari rumahnya dan masuk menuju kamar Rasulullah Sholallohu ‘alaihissalam membuka kain yang menutupi wajah Rasulullah Sholallohu ‘alaihissalam dan menciumnya, maka Abu Bakar yakin bahwa Rasulullah Sholallohu ‘alaihissalam benar-benar telah wafat, setelah itu ia keluar memberitakan ke kepada manusia dan berpidato di atas mimbar menerangkan bahwa Rasulullah Sholallohu ‘alaihissalam telah wafat, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dengan pidatonya itu dia berhasil menghilangkan perselisihan di antara para sahabar dan mereka ahirnya sepakat menerima apa yang disampaikan oleh Abu Bakar Radhiyallhu’anhu.

*@* PERMASALAHAN PENTING
Sebagian kaum Anshar keliru, mereka beranggapann bahwa khalifah itu dari kalangan mereka. bahkan muncul pendapat yang mengatakan bahwa dari golongan Anshar dan Muhajirin masing-masing mengangkat khalifah. Hingga ahirnya Abu Bakar ash-Shidiq menerangkan bahwa khalifah itu tidak boleh dijabat kecuali oleh orang- orang Quraisy. Ahirnya mereka sepakat dengan pendapat beliau sebagai mana kelak akan kita terangkan secara detail.

to be Continued….. Insya Alloh

March 19, 2010

Lowongan Kerja : Customer Service

(Titipan)
Sebuah perusahaan telekomunikasi membutuhkan segera : Customer Service Representative

Adapun kriteria dari CSR tersebut adalah :

1. Minimum D-3 Diploma Degree or S1 University Degree for any major discipline, fresh graduate or with minimum half year experience in Customer Service/Sales Promotion/Walk-in Center/Collection.
2. Customer focus, good team work, integrity dan good attitude.
3. Problem solving, administration, customer handling, attention to detail, cepat dalam melakukan pekerjaan.
4. Berjiwa sales dan pekerja keras
5. Mampu bekerja dibawah tekanan
6. Good communication skill
7. Good looking

Pesen dari user: mesti Good Looking gt n syarat lain terpenuhi.
Jika berminat segera kirim CV. to mhaniifs@yahoo.com
NOTE : dibuka hanya untuk beberapa hari kedepan mulai lowongan ini di posting (19 Maret 2010).
dipanggil interview hanya candidate yg memenuhi syarat.
Lokasi penempatan Surabaya.

February 21, 2010

Download Kajian – Ceramah

Kali ini anda dapat mendownload berbagai macam kajian audio MP3, aplikasi Adzan, ebook, doa harian doa setelah shalat, doa pagi petang, Hadist,
Kajian dari banyak ustad terkenal tentang: fiqih, Aqidah , Tauhid, tafsir, biography ulama, sejarah, manhaj dan lain lain.
Ustad : Abdul Hakim bin Amir Abdat, Yazid Abdul Qadir Jawas, Abdurahman at Tamimi, Abdussalam, Al Bughury, Abu Ihsan al Atsary, Abu Karimah Askariy, Armen Halim Naro Rahimahullah, Badrusalam, Aunur Rofiq, Mubarok Bamuallim, Abdurahman Thayib, Zulkarnaen, Abu Izzi, Agus Hasan Bashori, Saleh Hadrami, Muhammad Umar as Sewed, Muhammad Wujud, Syafiq Basalamah, Abu Qotadah, Ahmad Sabiq, Abu Haidar as Sundawiy,
Abdullah Taslim, Afifi Abdul Wadud, Abu Umar Basyier dan masih banyak lagi.
Ada keterangan larangan mengkomersilkan kajian tanpa ijin dari ustad yang bersangkutan.
Anda dapat mendownload di sini

September 19, 2009

Cara Download Video Youtube

Download File dari Youtube.com

Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Masuk ke youtube.com cari file yang akan di download.
2. Copy url (ada di sebelah kanan di bawah subscribe). misalnya : http://www.youtube.com/watch?v=u3zOpDiR3zg (file ustad Rasul Dahri )
3. Buka window baru di mozilla atau explorer / browser yg anda gunakan, ketikan : http://www.savevid.com
4. Paste url yg telah anda copy di kolom URL, kemudian klik download.
5. Klik Download flv untuk file flv, dan Download mp4 untuk file mp4, pilih sesuai dg extension file yg anda inginkan.
6. Save File. Ok.

Selamat mendownload.

March 25, 2009

Mutiara Hadits Arba’in an Nawawi

Mutiara hadits Arba’in an Nawawi

Hadits ke 2

2. Tentang Islam, Iman , Ihsan dan Tanda-tanda Kiamat.

Dari ‘Umar bin al – Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, ia mengatakan, “Ketika kami duduk di sisi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya bekas perjalanan jauh, dan tidak seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Hingga ia duduk menghampiri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu menyandarkan kedua lulutnya pada dua lulut berliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya (paha orang itu sendiri). seraya mengatakan, “Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam!” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallammenjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhad diibadahi dengan benar kecuali allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu.” Ia mengatakan, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, ia bertanya dan ia pula yang membenarkannya. Lalu ia mengatakan,” Kabarkanlah kepadaku Tentang Iman!” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari Akhir dan beriman kepada takdir baik dan buruknya.” Ia mengatakan, “Engkau benar.” Ia melanjutkan, “Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan!” Beliau menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ia mengatakan,”Kabarkanlah kepadaku tentang kiamat.” Beliau menjawab,”Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari pada dari orang yang bertanya.”  Ia mengatakan, “Kabarkanlajn kepadaku tentang tanda-tandanya.” Beliau menjawab, “Jika hamba sahaya wanita melahirkan tuannya, dan jika engkau melihat orang-orang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing bermegah-megahan dalam bangunan.” Lalu laki-laki itu pergi, tetapi aku masih diamtercengang (bebrapa lama). Kemudian beliau bertanya kepadaku, “Wahai ‘Umar, tahukah engkau siapa orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Ia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.” (HR Muslim)…6

Mutiara Hadits: …7

1.   Bagusnya akhlak Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau mau duduk dan berkumpul denagn para Shahabatnya.

2.   Malaikat dapat berubah wujud tidak seperti wujud aslinya, sebagaimana Malaikat Jibril ‘Alaihissalam yang datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam rupa seorang laki-laki.

3.    Pengajaran tentang adab seorang murid bersama gurunya.

4.   Pengajaran tentang keutamaan Islam dan dia dibangun di atas 5 perkara.

5.   Rukun iman ada enam, dann rukun-rukun ini memberikan kekuatan bagi manusia untuk taat dan takut kepada Allah.

6. Tiada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah saja.

7.   Jika seorang alim ditanya tentang sesuatu dan dia tidak mengetahui tentangnya, hendaklah dia mengatakan, “Allaahu a’lam (hanya Alllah yang mengetahui).” Sebab, ucapan imerupakan seteangah dari ilmu.

8.   Perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits ini adalah perkara agama secara global.

===================================================

….6: HR Muslim (no. 2, 3, 4, 8); Abu Dawud (no 4695, 4697); at Tirmidzi (no 2610); an Nasai (no. 4990); Ibnu Majah (no. 63); san Ahmad (I/52).

….7: Lihat Jaami’ul ‘uluum wal Hikam (I/97), Syarh al-Arba’iin an Nawawiyah (hal. 68) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al – ‘Utsaimin, dan al-Qawaa’id wal Fawaa’id (hal. 49) oleh Nazhim Muhammad Sulthan.

Dikutip dari : Mutiara Hadits Arbai’in – Imam An-Nawawi, Penyusun Abu Abdillah bin Luqman Al-Atsari, Penerbit:  Media Tarbiyah. Harga : Rp 8.800,-

July 2, 2008

Pembagian Tauhid

PEMBAGIAN TAUHID

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari

Pertanyaan
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari ditanya : Selama ini dalam berbagai kesempatan, saya banyak mendengar dari orang-orang yang mengatakan bermanhaj dan beraqidah Salaf, membagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Dari manakah pembagian ini, mengingat di dalam Al-Qur’an dan hadits tidak disebutkan. Dan menurut kami, hal itu tidak didapati pula pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun shahabat. Bukankah pernyataan tersebut termasuk suatu perkara baru (muhdats) dan tidak ada dalilnya?

Jawaban
Kami katakan, bahwa pembagian yang disyaratkan tersebut kedudukannya seperti pembagian para pakar ilmu Nahwu terhadap kata dalam bahasa Arab menjadi isim (nama), fi’il (kata kerja) dan harf (imbuhan). Apakah yang demikian itu suatu hal tercela, padahal sesuai dengan kenyataan dan hakekat perkaranya.

Betapa tepatnya perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam risalahnya “At-Tahdzir” halaman 30 berkisar pembagian tauhid. Kata beliau : “Pembagian ini adalah hasil istiqra (telaah) para ulama Salaf terdahulu seperti yang diisyaratakan oleh Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-Thabari serta yang lainnya. Hal ini pun diakui oleh Ibnul Qayim. Begitu pula Syaikh Zabidi dalam “Taaj Al-Aruus” dan Syaikh Syanqithi dalam “Adhwa Al-Bayaan” dan yang lainnya. Semoga Allah merahmati semuanya

Ini adalah hasil telaah yang paripurna dari nash-nash syar’i , seperti yang dikenal dalam setiap bidang ilmu. Seperti hasil tela’ah pakar ilmu Nahwu terhadap bahasa Arab menjadi : isim, fi’il dan harf. Dan orang-orang Arab tidak mencela dan melecehkan para pakar Nahwu tersebut terhadap hasil tela’ahnya”.

Berkata Syaikh Al-Baijuri dalam “Syarh Jauharah At-Tauhid” halaman 97. Firman Allah ; ‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin’, mengisyaratkan pada pengakuan ‘Tauhid Rububiyah, yang konsekwensinya adalah pengakuan terhadap Tauhid Uluhiyah. Adapun konsekwensi Tauhid Uluhiyah adalah terlaksananya Ubudiyah. Hal ini menjadi kewajiban pertama bagi seorang hamba untuk mengenal Allah Yang Maha Suci. Kata beliau selanjutnya : “Kebanyakan surat-surat Al-Qur’an dan ayat-ayatnya mengandung macam-macam tauhid ini, bahkan Al-Qur’an dari awal hingga akhir menerangkan dan mengejawantahkan (menjelaskan)”.

Kami katakan : “Sesungguhnya pembagian tauhid menjadi tiga ini, dikandung dalam banyak surat di dalam Al-Qur’an Al-Karim. Yang paling tampak serta paling jelas adalah dalam dua surat, yaitu Al-Fatihah dan An-Naas, dimana keduanya adalah pembuka dan penutup Al-qur’an.

Oleh karena itu firman-Nya Yang Maha Suci ; ‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin’, mengandung pengukuhan akan ke-rububiyah-an Allah Jalla wa Alaa terhadap seluruh makhluk-Nya, dan firman-Nya Yang Maha Suci : ‘Ar-Rahmanir Rahiim Maliki Yaumid Diin’ di disini mengandung pengukuhan terhadap sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi dan nama-nama-Nya Yang Maha Mulia, sedangkan firman-Nya Yang Maha Suci : ‘Iyaaka Na’budu Wa Iyaaka Nasta’iin’ di sana mengandung pengukuhan ke-ubudiyah-an seluruh makhluk kepada-Nya dan ke-uluhiyah-an Allah atas mereka.

Kemudian berkata Imam Ibnu Athiyah (wafat ; 546H) dalam kitabnya Al-Muharrar Al-Wajiiz, juz I, hal.75. Firman-Nya : ‘Iyaaka Na’budu’ adalah ucapan seorang yang beriman kepada-Nya yang menunjukkan pengakuan terhadap ke-rububiyah-an Allah, mengingat kebanyakan manusia beribadah kepada selain-Nya yang berupa berhala-berhala dan lain sebagainya”.

Jadi pembagian tauhid menjadi tiga tersebut adalah pembagian secara ilmu dan merupakan hasil tela’ah seperti yang dikenal dalam kaidah keilmuan. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti tidak ber-tafaquh terhadap Kitab Allah, tidak mengetahui kedudukan Allah, mengetahui sebagian dan tidak mengetahui sebagian yang lainnya. Allah pemberi petunjuk ke jalan nan lurus kepada siapa yang Dia kehendaki.

Wallahu ‘alam

[Diangkat dari rubrik soal-jawab majalah Al-Ashalah edisi 4 Syawal 1413H. Disalin ulang oleh Majalah As-Sunnah Edisi 14/II/1416 – 1995. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Gedung Umat Islam Lt. II Jl. Kartopuran 241A Surakarta 57152]

www.almanhaj.or.id

June 10, 2008

Panduan Lengkap Shalat Tahajjud

Panduan Lengkap Shalat Tahajjud

 

… Ringkasan Buku …
http://buku-islam.blogspot.com

Judul : Panduan Lengkap Shalat Tahajjud
Penulis : Muhammad bin Su’ud al ‘Arifi
Pengedit Isi : Arman bin Amri, Lc
Penerbit : Pustaka Ibnu Katsir
Cetakan : Kelima – Maret 2007
Halaman : xiv + 258

Shalat tahajjud merupakan shalat yang paling utama setelah shalat wajib. Begitu banyak keutamaan-keutamannya sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an dan juga hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam. Diantaranya

“Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al Israa’ : 79).

Dalam buku ini Anda akan mendapatkan penjelasan yang meluas tentang shalat tahajjud. Diantaranya keutamaannya, manfaatnya, faktor yang memudahkan shalat tahajjud, dll. Di samping itu disertakan pula pembahasan tentang shalat witir. Yang juga menarik untuk disimak adalah pembahasan tentang gambaran Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, para shahabat dan juga para salafush shalih dalam melewatkan malam mereka dengan tahajjud. Mereka melewatkannya dengan penuh kekhusyu’an. Sampai-sampai Al Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan bahwa Imam asy Syafi’I menangis tiada hentinya ketika membaca ayat-ayat dalam surat Al Mursalat karena penghayatan yang begitu dalam.

Semoga dengan membaca buku ini semakin memantapkan hati untuk melewatkan malam kita dengan tahajjud. Karena memang tidak patut untuk dilewatkan begitu saja. Semoga Allah menolong kita.

Berikut saya kutipkan sebagian dari buku tersebut dengan meringkasnya.

[Keutamaan Shalat Malam dan Anjurannya]
—————————————
Di dalam banyak ayat, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganjurkan kepada Nabi-Nya yang mulia untuk melaksanakan shalat malam. Antara lain adalah:

“Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjudlah kamu…” (QS. Al Israa’ : 79).

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb mu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada Nya pada beberapa saat di malam hari dan waktu terbenamnya bintang bintang (di waktu fajar).” (QS. Ath Thuur: 48-49).

Allah pun memuji para hamba-Nya yang shalih yang senantiasa melakukan shalat malam dan bertahajjud, Allah berfirman:

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz Dzaariyaat: 17-18).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Tak ada satu pun malam yang terlewatkan oleh mereka melainkan mereka melakukan shalat walaupun hanya beberapa raka’at saja.”

Al Hasan al Bashri berkata, “Mereka melakukan shalat malam dengan lamanya dan penuh semangat hingga tiba waktu memohon ampunan pada waktu sahur.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfiman dalam memuji dan menyanjung mereka:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 16-17).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan apa yang mereka lakukan adalah shalat malam dan meninggalkan tempat tidur serta berbaring di atas tempat tidur yang empuk.”

Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Cobalah renungkan bagaimana Allah membalas shalat malam yang mereka lakukan secara sembunyi dengan balasan yang Ia sembunyikan bagi mereka, yakni yang tidak diketahui oleh semua jiwa. Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan shalat malam dengan kesenangan jiwa di dalam surga.”

[Faktor-Faktor yang Memudahkan Shalat Tahajjud]
———————————————–
1. Menjauhi perbuatan dosa dan maksiat
2. Tidak meninggalkan tidur siang karena itu adalah sunnah
Al Hasan al Bashri bila datang ke pasar dan mendengar hiruk pikuk orang orang di sana, ia berkata, “Aku mengira malam mereka adalah malam yang buruk (karena tidur nyenyak dan tidak bertahajjud), mengapa mereka tidak tidur tengah hari?”

3. Tidak memperbanyak makan
4. Tidak membebankan fisik di siang hari
5. Mengamalkan sunnah saat tidur

[Beberapa Gambaran Mengenai Qiyaamul Lail]
——————————————
** Keadaan Salafush Shalih di Malam Hari **

9. Imam Malik bin Anas rahimahullah.
Al Mughirah berkata, “Aku pernah keluar pada suatu malam setelah orang orang benar benar telah tertidur, lalu aku melintasi Malik bin Anas, aku melihatnya tengah berdiri melakukan shalat. Tatkala dia selesai dari bacaan al Faatihah, dia mulai membaca surat at Takaatsur:

‘Bermegah megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatan itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar benar akan melihat Neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah megahkan di dunia itu).’

Lalu dia menangis cukup lama dan kemudian dia pun mengulangi ayat ini dan kembali menangis. Apa yang aku dengar dan aku lihat dari sosok Malik ini telah membuatku melupakan keperluanku yang membuatku keluar untuknya. Tiada henti hentinya aku berdiri, sedangkan dia tetap mengulang ulang ayat tersebut dan menangis hingga terbit fajar. Tatkala dia melihat fajar telah jelas, barulah dia ruku’. Kemudian aku pulang ke rumahku, lalu aku berwudhu’ dan kemudian pergi ke masjid, tiba tiba Malik sudah berada di tempatnya (di masjid) dan jama’ah ada di sekelilingnya. Tatkala memasuki waktu Shubuh, aku melihat pada wajahnya tampak cahaya dan keindahan darinya.”

[PERSONAL VIEW]
—————
Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah gambaran shalat malam yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, para shahabat dan juga para salafush shalih. Mereka begitu bersemangat, khusyuk, dalam melakukan shalat tahajjud. Ditambah lagi mereka begitu menghayati dan meresapi ayat demi ayat yang mereka baca. Begitu menghayatinya sampai sampai mereka menangis. Bahkan Imam asy Syafi’i menangis hingga beliau pingsan, sebagaimana diriwayatkan oleh al Hafizh Ibnu ‘Asakir. Demikian pula keadaannya pada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah, ketika membaca surat Al Qaari’ah. Dan lain lain.

Diri kita ini masih begitu sangat jauh bila harus beribadah seperti ibadahnya para salafush shalih. Bahkan tanpa pertolongan Allah, shalat malam pun masih terasa berat. Semoga Allah menolong kita agar bisa melewatkan malam dengan shalat tahajjud. Satu ibadah yang bisa mengangkat kita ke tempat yang terpuji, sebagaimana janji Allah dalam Surat Al Israa.

“Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al Israa’ : 79).

Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka
di Depok, 11 November 2007

Tags: ,